Jumat, 07 Juni 2013

TIPS BELAJAR BAHASA INGGRIS SENDIRI

Anda bisa belajar dan menguasai bahasa Inggris dengan baik secara otodidak, namun ada beberapa hal yg perlu diperhatikan.1. Pilih buku pegangan (atau software) yang baik. Buku yang baik adalah buku yangmengajarkan secara lengkap semua aspek bahasanya, speaking, listening, reading,
Tips tips belajar cara Islam

 Saya sangat terheran heran dengan cerita Sahabat Rasulullah, bagaimana mungkin Sayidina Abu Hurairah dapat menghafal ribuan hadits atau Sayidina Ustman dapat mengkhatam Quran dalam shalat tahajudnya atau Sayidina Ali menguasai berbagai ilmu hikmah yang diamalkan dalam kehidupannya atau Sayidina Khalid bin Walid dapat menang dalam berbagai peperangan, banyak sekali keajaiban yang dimiliki Sahabat Rasulullah. Apa yang dilakukan mereka dan tidak lagi dilakukan di zaman ini? apa yang mereka ketahui dan tidak kita ketahui? Guru saya, Abuya, mengatakan bahwa banyak sekali ilmu ilmu yang telah hilang dari zaman Rasulullah, Salafussoleh, Tabit Tabiin sampai sekarang. Banyak hal yang terlihat kecil dan tidak diamalkan orang sekarang namun besar pengaruhnya dalam proses mencari ilmu. Hal ini telah diketahui dan menjadi amalan orang orang soleh di zaman rasul dan sesudahnya. Diantaranya: Niat menuntut ilmu untuk mencari keredhoan Allah, dengan cara ini Allah akan berikan jalan keluar dalam setiap langkah yang buntu. Patuh pada guru . Tidak durhaka pada guru, orang tua, tidak berbuat jahat pada siapa saja atau apa saja. Contoh yang durhaka pada guru: Tsa’labah yang tidak patuh pada Rasul. Qarun yang tidak mau ikut dengan Nabi Musa. Keduanya mati dalam keadaan jauh dari Tuhan. Audzubillahimindzalik. Tidak berbuat aniaya pada siapa atau apapun. Menganiaya kawan atau makhluk lain akan membuat hati menjadi mati dan mudah berbuat dosa berikutnya. Menghindari dosa dosa besar dan kecil Misalnya:
Cerpen islami
 Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan. Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar. Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak?? C". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal?? C Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan. Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah. Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu. Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan. Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu. Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam mobil mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di mobil ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku. Ibu .. ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini?? C" bisikku perlahan. Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua. Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku percaya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah. Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menyelesaikan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat sekarang, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua putri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu .... Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu 'tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah .. teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan. Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Untungnya, Window-seat, no smoking area , membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu. Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu. Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu ... Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu ... Rini datang, bu ..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu .." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini. ***

Minggu, 02 Juni 2013

 CERITA REMAJA

Aku terlahir bukan dari kalangan keluarga kaya, bukan dari keluarga yang memiliki banyak uang. Bisa dibilang keluarga kami ini adalah keluarga tak mampu. Ayahku hanya seorang lulusan SMA yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan ibuku adalah seorang pembantu rumah tangga. Hidupku tidak seberuntung anak-anak lainnya yang terlahir dari keluarga berlimpah harta, yang bisa memiliki apapun seperti yang mereka ingin. Ayah dan ibuku memang tak memiliki banyak uang untukku, tapi mereka memiliki banyak kasih dan sayang, yang selalu mereka berikan untukku. Sama seperti orang tua yang lainnya, mereka ingin aku kelak menjadi orang sukses dan memiliki kebahagiaan yang tidak pernah mereka rasakan.
Keluarga kami memang begitu kesulitan dengan masalah ekonomi, tapi itu bukan sebuah alasan bagi orang tuaku untuk tidak memberikanku pendidikan. Ketika aku berumur 5 tahun mereka menyekolahkanku di sebuah Taman Kanak-kanak yang tak jauh dari rumah. Tak sama dengan teman-teman seusiaku, aku tak pernah diantar atau bahkan ditemani saat aku belajar di sekolah. Aku selalu sendiri saat berangkat ataupun pulang, hanya saja terkadang ada orang tua temanku yang mau mengantarkanku pulang. Saat ada acara-acara di luar sekolah aku pun selalu sendiri, tanpa ditemani ayah ataupun ibu.
Aku jarang mendapatkan uang saku dari ibu, ketika yang lain berlarian menuju penjual jajan aku hanya bisa melihat mereka, tanpa bisa merasakan hal yang sama. Ketika mereka dengan lahapnya memakan jajan, aku hanya bisa menelan ludah. Tapi guruku begitu baik, saat beliau melihatku berdiam diri tanpa memakan apapun aku selalu diberinya makanan ringan atau bahkan uang.

 MALAM YANG SERAM ......


“Mamaaaaaaaaaa, tunggu akuu !!” seperti biasa setiap ingin pergi ke sebuah tempat pasti Zenna yang paling lama bersiap-siap. Hari itu Zenna sekeluarga akan pergi ke sebuah tempat rekreasi yang bernama Candi Songo di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Saat itu Zenna sekeluarga sedang berada di sekitar Jogja. Mereka sekeluarga sedang liburan sekolah, jadi mereka menentukan untuk pergi berjalan-jalan.
Saat itu hari menjelang sore. Mereka sengaja untuk berangkat sekitar jam 16.30 supaya bisa sampai pada malam harinya dan menikmati udara malam di tengah perbukitan yang berada di Temanggung tersebut.
Sesampainya mereka di sebuah tempat parkir yang sangat sepi oleh pengunjung itu mereka turun. Zenna memiliki saudara bernama Nova, Hakim, Lukman, Faris dan Fauzan yang ikut dalam perjalanan tersebut. Zenna dan saudaranya pada awalnya sangat bersemangat untuk masuk ke Candi tersebut.
Kebetulan memang tempat wisata itu buka 24 jam. Selain itu selain dijadikan sebagai tempat wisata, Candi Songo juga sering di pakai untuk berkemah.
“Ayoooo kita segeraa masuuukk !!” teriak Nova salah satu saudara Zenna yang sudah tidak sabar untuk masuk. Setelah membeli tiket untuk masuk mereka ketakutan. Muka mereka terlihat sangat konyol pada saat itu.
“Sebaiknya anak-anak nyewa kuda aja, jalanan licin dan berbahaya.” Kata tante Zenna. Akhirnya mereka mendatangi tempat penyewaan kuda yang tak jauh letaknya dari loket masuk.

CERITA LUCU

Seorang Suami dan Istrinya tengah menghadiri sidang perceraiannya. Dalam sidang akan memutuskan siapa yang mendapat hak asuh anak.

Sambil berteriak histeris dan melompat – lompat si istri berkata :
“Yang Mulia, Saya yang mengandung, melahirkan bayi itu ke dunia dengan kesakitan dan kesabaran saya!! ”
“Anak itu harus menjadi hak asuh Saya!!”

Hakim lalu berkata kepada pihak suami:
“Apa pembelaan anda terhadap tuntutan istri Anda”

Si Suami diam sebentar, dengan nada datar ia berkata :
“Yang mulia… Jika saya memasukkan KOIN ke mesin minuman Coca-Cola, mesinnya BERGOYANG SEBENTAR, dan minumannya keluar, Menurut Pak Hakim … Minumannya milik saya atau mesinnya?
 CERITA INSPIRASI
      Di suatu pagi seorang ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya. Setelah membacakan cerita,
si ayah bertanya kepada anaknya : Nak, apa kamu sayang Ayah…???”
Si anak menjawab, “Tentu saja aku sayang Ayah” Ayahnya tersenyum lalu bertanya, “Kalau begitu, boleh
Ayah minta kalungmu…???”
Lalu si anak menjawab, “Ayah, aku sayang Ayah, tapi aku juga sayang sama kalung ini” Lalu Ayahnya berkata, “Ya sudah tidak apa2, Ayah hanya bertanya saja” Si ayah lalu pergi.
Di hari berikutnya selama 3 hari berturut2, ayahnya menanyakan hal yang sama & si anak pun menjawab dengan kata-kata yang sama. Si anak berpikir sambil memegang kalung imitasi kesayangannya itu, “Kenapa tiba-tiba Ayah mau kalung ini…??? Ini kalung yang paling aku sayangi, kalung ini pun pemberian Ayah juga…”